5 Faktor yang Membuat Williams Berubah dari Kekuatan Superior Jadi Tim Medioker

1 Desember 2021, 16:45 WIB
Editor: Doddy Wiratama
Mobil pembalap Williams-Mercedes, George Russell, mengalami insiden di GP Emilia Romagna.
Mobil pembalap Williams-Mercedes, George Russell, mengalami insiden di GP Emilia Romagna. /(Twitter/Formula 1)

  • Williams dulu dikenal sebagai salah satu tim yang memiliki kekuatan superior di kompetisi F1.
  • Sayangnya, tim yang didirikan Sir Frank Williams dan Sir Patrick Head itu mengalami penurunan performa dan kini jadi tim medioker.
  • Ada setidaknya lima faktor yang membuat tim Williams berada di papan bawah F1 dalam beberapa musim terakhir.

SKOR.id - Pendiri Williams F1 Team, Sir Frank Williams, berpulang ke pangkuan sang khalik pada Minggu (28/11/2021) lalu.

Bersama sahabatnya, Sir Patrick Head, ia adalah sosok pendiri tim Williams yang kemudian jadi kekuatan superior F1 pada era 1980-an dan 1990-an.

Total, tim Williams mampu menyabet tujuh gelar juara dunia pembalap dan sembilan juara dunia konstruktor. 

Sayang, kejayaan Williams saat ini tinggal cerita. Mereka kesulitan tampil kompetitif bahkan hanya tak meraih satu poin pun pada F1 2020.

Lalu, apa yang menyebabkan performa Williams anjlok? Berikut lima faktornya:

1. Semena-mena Terhadap Pembalap

Boleh dibilang, ini merupakan "dosa" terbesar Frank Williams selama hidupnya. Saat Williams mendominasi medio 1992 hingga 1997, line-up pembalap tidak pernah tetap.

Bahkan, Sir Frank Williams tak segan-segan mendepak pembalap meskipun yang bersangkutan telah sukses menjadi juara dunia.

Salah satu contohnya dialami Nigel Mansell yang jadi juara dunia F1 1992. Alih-alih dipertahankan, Williams justru mendepak sang pembalap lalu merekrut Alain Prost.

Sejatinya, Williams berencana menduetkan dua pembalap itu. Namun, Mansell ogah karena punya hubungan kurang baik dengan Prost saat sama-sama membela Ferrari.

Kejadian serupa terulang pada 1993. Usai Alain Prost jadi juara dunia, Williams malah ingin mendatangkan Ayrton Senna yang jadi rivalnya.

Prost pun memilih pensiun dan Williams akhirnya mempekerjakan Senna. Nahas baginya, sang legenda meninggal dunia dalam insiden maut di GP San Marino 1994.

Alain Prost (kiri) mampu 51 kali memenangi lomba (109 start), 106 finis podium, 33 pole position, 41 lap tercepat, dan empat gelar juara dunia (1985, 1986, 1989, 1993) dalam dua periode berkarier di F1. Tampak ia bersama rival abadi, Ayrton Senna, usai GP Australia 1993.
Alain Prost (kiri) mampu 51 kali memenangi lomba (109 start), 106 finis podium, 33 pole position, 41 lap tercepat, dan empat gelar juara dunia (1985, 1986, 1989, 1993) dalam dua periode berkarier di F1. Tampak ia bersama rival abadi, Ayrton Senna, usai GP Australia 1993. Twitter/Alain Prost (@Prost_official)

Perlakuan semena-mena dari Williams juga sempat dialami oleh sosok Damon Hill.

Damon Hill yang sedang memimpin klasemen pembalap F1 1996, yang kemudian jadi juara dunia, diberi tahu manajemen tim Williams kalau kontraknya tak diperpanjang.

Jadilah Hill jadi pembalap ketiga Williams yang didepak usai menjadi juara dunia F1. Posisinya kemudian digantikan Heinz-Harald Frentzen.

2. Kehilangan Adrian Newey

Buruknya hubungan Williams dengan desainer mobil mereka, Adrian Newey, juga dipengaruhi sikap semena-mena Frank Williams dan Patrick Head terhadap pembalap.

Adrian Newey yang bergabung dengan Williams sejak 1991 meminta kontrak baru pada 1995.

Ia ingin ada klausul kepemilikan wewenang memilih pembalap agar Williams punya line-up yang lebih stabil. Permintaan itu sepertinya ditolak, Newey dibohongi.

Pada 1996 Williams merekrut Jacques Villenueve tanpa diskusi dengan Newey. Williams juga tak memperpanjang kontrak Hill tanpa berunding dengannya.

Alhasil, Newey meradang dan memutuskan hengkang ke McLaren pada 1997. Di sinilah awal kehancuran Williams, meski pada musim itu mereka masih bisa merebut gelar juara dunia.

Andai tak kehilangan Adrian Newey, Williams bisa saja masih bertahan jadi salah satu tim yang disegani.

Pasalnya, sang desainer mobil F1 itu terbukti punya kemampuan yang mumpuni. Salah satunya ditunjukkan kala membawa Red Bull Racing mendominasi musim 2010-2013.

Sebastian Vettel dan Adrian Newey (tengah, kiri-kanan) merayakan selebrasi saat memastikan gelar juara dunia pembalap dan konstruktor di F1 2010. Setelah menggaet Vettel, Aston Martin disinyalir juga akan merekrut Newey.
Sebastian Vettel dan Adrian Newey (tengah, kiri-kanan) merayakan selebrasi saat memastikan gelar juara dunia pembalap dan konstruktor di F1 2010. Setelah menggaet Vettel, Aston Martin disinyalir juga akan merekrut Newey. Twitter/Sebastian Vettel #5 (@sebvettelnews)

3. Amandemen Concorde Agreement

Upaya F1 untuk lebih menjaring pasar global membuat tim F1 harus menandatangani Amandemen Concorde Agreement.

Perjanjian ini jelas jadi pukulan untuk tim, sebab Bernie Ecclestone berhak atas 77 persen pendapatan hak siar sedangkan tim F1 hanya dapat 23 persen yang masih dibagi rata.

Ini membuat F1 makin merambah pasar global tetapi tim-tim private seperti McLaren, Tyrell, maupun Williams merana.

Akhirnya, McLaren menjual sebagian saham ke Mercedes. Sedangkan Tyrell menjual timnya ke British American Tobacco (BAT) dan berubah nama jadi British American Racing (BAR).

Berbeda dengan dua tim lain, Williams kukuh pada pendirian dengan tetap bersaing di F1 dengan status tim private murni. Alhasil, mereka mengalami kesulitan.

Apalagi Williams juga ditinggal sponsor kakap seperti Rothmans dan juga Renault selaku pemasok mesin yang ingin fokus menjadi tim pabrikan usai membeli Benetton.

4. Hubungan Buruk dengan BMW

Harapan Williams kembali jadi tim perkasa muncul setelah mereka menjalin kerja sama dengan pabrikan mobil Jerman, BMW, pada 2000.

Terbukti, BMW sanggup membuatkan mesin mumpuni untuk Williams. Buktinya, Williams-BMW sanggup menempati peringkat tiga konstruktor di F1 2000 dan 2001.

Puncak kejayaan Williams-BMW terjadi pada dua musim berikutnya. Pada 2002, mereka sukses menggeser McLaren sebagai konstruktor nomor dua di F1 pun demikian pada 2003.

Sayang, Juan Pablo Montoya hanya finis ketiga di klasemen pembalap dalam dua musim tersebut.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Juan Pablo Montoya (@jpmonty2)

Mulai musim 2004, prestasi Williams-BMW merosot. Ini membuat Williams dan BMW saling menyalahkan.

BMW menyebut Williams gagal membuat sasis yang mampu menyalurkan tenaga mesin. Sedangkan Williams menyalahkan mesin BMW yang mulai kalah dari Honda dan Renault.

Makin jeblok di 2005, akhirnya BMW dan Williams berpisah pada akhir musim tersebut. BMW pun pindah haluan ke Sauber.

5. Gagal Dapat Pemasok Mesin Mumpuni

Setelah berpisah dengan BMW, Williams makin hilang arah. Mereka terus gonta-ganti pemasok power unit hingga sekarang menggunakan Mercedes.

Tak hanya itu, Williams mulai kesulitan keuangan. Buktinya mereka mulai menerima pay driver untuk mengisi kokpit, seperti Lance Stroll, Pastor Maldonado, dan lain-lain.

Williams kini juga menjadi tempat Mercedes menitipkan pembalap binaannya, George Russell. Pada 2017, mereka juga terkesan jadi tim satelit untuk Mercedes.

Mercedes dengan mudah meminta Valtteri Bottas untuk mendampingi Lewis Hamilton meski pembalap asal Finlandia itu masih punya kontak setahun dengan Williams.

Valtteri Bottas dan Lewis Hamilton pada tahun-tahun awal kebersaman di Mercedes-AMG Petronas.
Valtteri Bottas dan Lewis Hamilton pada tahun-tahun awal kebersaman di Mercedes-AMG Petronas. Instagram/@lewishamilton

Seiring berjalannya waktu, Williams terus mengalami kesulitan. Hantaman pandemi Covid-19 membuat tim yang berbasis di Inggris itu kian terperosok.

Ditinggal sponsor-sponsor kakap, karena tertundanya balapan F1 2020, membuat Williams kesulitan keuangan.

Alhasil, Keluarga Williams menjual timnya ke Dorilton Capitals yang merupakan perusahaan investasi asal Amerika Serikat (AS).

Dengan demikian, berakhir sudah kisah Williams sebagai tim private murni terakhir di F1.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Skor.id (@skorindonesia)

Berita F1 Lainnya:

Fakta Menarik Sirkuit Jeddah Corniche, Venue Balapan GP Arab Saudi untuk Kali Pertama

Max Verstappen vs Lewis Hamilton Alot, F1 2021 Berpotensi Jadi Musim Terketat Sepanjang Sejarah

  • Sumber: Berbagai Sumber
  • Tag

    Video

    Berita Terkait

    Formula 1

    Senin, 29 November 2021

    Jika Duel Max Verstappen vs Lewis Hamilton Berakhir Imbang, Pasal Dead Heat Siap Diterapkan

    Max Verstappen dan Lewis Hamilton menghadirkan persaingan perebutan gelar juara dunia F1 2021 yang ketat.

    Formula 1

    Senin, 29 November 2021

    Christian Horner Optimistis Red Bull Raih Kemenangan di Dua Seri Terakhir

    Christian Horner optimistis Red Bull mampu meraih kemenangan di dua seri balapan terakhir Formula 1 musim ini.

    Formula 1

    Selasa, 30 November 2021

    Daniel Ricciardo: Max Verstappen Masih Agresif, Namun Lebih Dewasa

    Daniel Ricciardo menyebut Max Verstappen masih merupakan pembalap agresif, namun kini ia lebih dewasa.

    Terbaru

    Formula 1

    Minggu, 2 Oktober 2022

    Hasil F1 GP Singapura 2022: Sergio Perez Menang, Marina Bay Banjir Drama Safety Car

    Minggu (2/10/2022), Sergio Perez sukses memenangi F1 GP Singapura 2022 setelah menaklukkan lintasan basah Marina Bay.

    Formula 1

    Minggu, 2 Oktober 2022

    F1 Singapura 2022 Catat Rekor Penonton Terbanyak, Tembus 302 Ribu Pasang Mata

    F1 Singapura 2022 dihadiri hingga 302.000 penonton.

    Formula 1

    Minggu, 2 Oktober 2022

    Gegara Perhiasan Lewis Hamilton, Mercedes Kehilangan Uang Rp373 Juta

    Lewis Hamilton membuat Mercedes dihukum karena menggunakan anting saat melakoni latihan bebas F1 GP Singapura 2022.

    Formula 1

    Minggu, 2 Oktober 2022

    Hasil Kualifikasi F1 GP Singapura 2022: Menangi Duel Sengit, Charles Leclerc Sabet Pole ke-9

    Pertarungan sengit mewarnai sesi kualifikasi F1 GP Singapura 2022 yang digelar Sabtu (1/10/2022).

    Formula 1

    Sabtu, 1 Oktober 2022

    Bos Williams Minta Tim Pelanggar Budget Cap F1 Dihukum Berat

    Bos Williams, Jost Capito meminta agar pelanggar budger cap F1 dihukum berat

    Formula 1

    Sabtu, 1 Oktober 2022

    Hasil FP3 F1 GP Singapura 2022: Sempat Tertunda, Charles Leclerc Torehkan Waktu Lap Terbaik

    Dalam sesi yang sempat tertunda akibat cuaca buruk, Charles Leclerc keluar sebagai pembalap tercepat.

    Formula 1

    Sabtu, 1 Oktober 2022

    F1 GP Singapura 2022: George Russell Optimistis Rebut Pole Position

    George Russel pun optimistis merebut pole position pada F1 GP SIngapura 2022.

    Formula 1

    Sabtu, 1 Oktober 2022

    Red Bull Optimistis Tak Lewati Budget Cap F1

    Prinispal Red Bull, Christian Horner, tegaskan timnya sudah memenuhi aturan budget cap yang ditetapkan F1

    Formula 1

    Jumat, 30 September 2022

    AlphaTauri Disebut telah Capai Kesepakatan dengan Nyck de Vries

    Nyck de Vries dikabarkan makin mendekat ke AlphaTauri.

    Formula 1

    Jumat, 30 September 2022

    Hasil FP1 F1 GP Singapura 2022: Lewis Hamilton Bukukan Waktu Lap Tercepat

    Pembalap Mercedes, Lewis Hamilton, membuat kejutan dengan menjadi pembalap tercepat pada FP1 F1 GP Singapura 2022.
    X